Jumat, 20 Juli 2018

Garam sebagai salah satu mata pencaharian masyarakat Madura


Sore kemarin tepatnya Jum’at, 20 Juli 2018 kami kelompok 04 KKN  Tematik Universitas Trunojoyo Madura Semester Genap Tahun Ajaran 2018 yang berada di desa pesanggerahan kecamatan Kwanyar Kabupaten Bangkalan akan menjalankan salah satu proker (program kerja) kami yakni survei atau istilah kerennya blusukan mengunjungi petani garam di Desa Pesanggerahan ini. Kebetulan tak jauh dengan base camp kami terdapat tambak garam yang lumayan luas milik kelompok tani di desa ini.
Garam adalah salah satu kebutuhan manusia yg penting. Salah satu penghasil garam bahkan yg terbesar di Indonesia adalah Pulau Madura, tak salah jika dijuluki sebagai Pulau Garam. Memang pada dasarnya garam di hasilkan dari air laut yang di sinari terik matahari. namun tidak semua pulau atau wilayah di Indonesia mampu menghasilkan garam, karena perlu tingkat panas matahari yg terik sehingga dapat berkristalisasi dengan sempurna, maka dari itu garam biasanya lebih sempurna terbentuk jika musim kemarau seperti saat ini.
Kembali ke topik, mula-mula kami kelilng desa terlebih dahulu, lantas kami berhenti di tambak garam warga. Kebetulan warga sedang memanen garam. Dan kami putuskan untuk ikut terjun merasakan sendiri bagaimana rasanya memanen garam langsung dari asalnya, sambil berniat melakukan wawancara sedikit kepada pemilik tambak tersebut. Disana kami bertemu satu keluarga petani garam. Setelah kami berbincang Panjang lebar ternyata bapak pemilik tambak tersebut berasal dari kecamatan dan kabupaten yang sama dengan Kordes {coordinator Desa} kelompok 04 KKN kami, yaitu Kecamatan Kalianget yg merupakan ujung Timur Madura yakni masuk wilayah administratif Kab.Sumenep, {terettan thibbi’)  “ungkap salah seorang petani garam disana”  yang artinya (saudara sendiri) memang orang madura sangatlah kental persaudarannya. Satu keluarga tersebut ternyata adalah perantau. Beliau bercerita bahwa beliau tidak punya tambak sendiri di Sumenep sana, maka dari itu beliau merantau ke Bangkalan ke Ds. Pesanggerahan ini yang juga letaknya tidak jauh dari laut. Kami mencoba berinteraksi dengan ibuk-ibuk petani dan mencoba mengambil garam dari tambak kemudian di masukan ke gerobak untuk di kumpulkan. Uhh, baru berapa sekrop saja kami sudah Lelah, pungung rasanya kaku, maklum saja mensekrop garam harus merunduk persis seperti orang tandur pari (menanam padi di sawah )  jadi harus merunduk seperti oprang rukuk sholat. Kami tak bisa bayangkan lelahnya punggung ibuk-ibuk ini yang sedari tadi melakukan hal tersebut. Karena tambaknya lumayan luas juga, hehe.
Setelah selesai garam yang terkumpul akan di biarkan terkena matahari untuk mengurangi kadar air di dalamnya kira kira 3 hari 2 malam, kemudian garam tersebut akan di masukkan ke dalam karung-karung garam dan siap untuk di setor ke pabrik yang berada di Surabaya Jawa timur. Harganya di hitung berdasdarkan kualitas garam yang dihasilkan dan akan di hargai langsung oleh perusahaan. Jadi ketika kami bertanya terkait harga ibuk nya menjawab yang jika disimpulkan begini “harganya tergantung bos nya mas, di perusahaan”. Setelah selesai kami lanjut dengan mengambil dokumentasi dan ber foto Bersama teman teman satu kelompok.

Penulis : Suhardi
Editor  : Ainur Inas Annisa

0 komentar:

Posting Komentar